Nilai Murni Yang Semakin Terpinggir

8 05 2019

Ada ubi ada batas, ada budi ada balas; hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati.

Begitulah bunyinya peribahasa-peribahasa Melayu, yang patut kita jadikan pedoman agar dapat menjadi insan yang baik budi pekertinya serta tinggi kesopanannya.

Sejak dahulu lagi orang Melayu amat menitik beratkan soal budi bahasa. Malah, kerajaan Malaysia sendiri memilih slogan “Budi Bahasa Budaya Kita” untuk memupuk nilai murni serta semangat perpaduan di kalangan rakyat berbilang kaum di negara ini. Bagi saya, sikap mengenang budi dan membalas budi adalah sangat penting dalam membentuk satu masyarakat yang berbudi pekerti tinggi, bertoleransi dan penyayang.

Di dalam melayari kehidupan, kita sentiasa memerlukan pertolongan daripada orang lain, tidak kira di dalam apa jua situasi. Sikap saling tolong-menolong adalah satu budaya murni yang amat penting di dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu indahnya budaya Melayu yang berteraskan adab dan hukum Islam; dan budaya sebeginilah yang telah kita amalkan sejak zaman dahulu lagi. Bila orang berbudi, kita membalas budi mereka sepenuh hati; hari ini kita ditolong, hari esok kita pula yang akan cuba memberi pertolongan. Orang berbudi, kita berbahasa. Sikap begini mampu memupuk kasih sayang dan persepakatan di dalam masyarakat dan akan membawa kepada keberkatan hidup dan perpaduan rakyat.

Namun zaman telah berubah dan malangnya banyak nilai-nilai murni semakin dilupakan. Sikap materialistik dan individualistik mula mempengaruhi masyarakat kita, sehinggakan masyarakat semakin lupa akan nilai-nilai murni budaya bangsa. Bahkan ada di kalangan kita yang menjadi rakus dan tamak dalam mencapai impian sehingga tidak merasa bersalah untuk memijak dan menjatuhkan insan lain yang pernah menolong kita demi mencapai impian diri. Ramai yang telah lupa akan semangat, “bagai aur dengan tebing”; yang mana kini dianggap sekadar satu peribahasa yang perlu dihafal untuk lulus peperiksaan Bahasa Melayu.

Bagi saya, apa gunanya kita membicarakan soal bermuafakat, jika prinsip asas ukhuwah tidak dapat kita amalkan. Begitulah pentingnya sikap menghargai, mengenang dan membalas budi baik orang kepada kita di dalam membentuk satu masyarakat bertamadun tinggi dan berbudi bahasa. Bahasa menunjukkan bangsa. Yang kurik itu kundi, yang merah itu saga; yang baik itu budi, yang indah itu bahasa. 

Tulisan berkatian:

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.




%d bloggers like this: